TUGAS
SISTEM
INFORMASI MANAJEMEN

Disusun
oleh:
RENDI
SETIAWANTO
Dosen
pengampuh:
NASRUDDIN,
MM
SEKOLAH TINGGI ILMU
EKONOMI MUSI RAWAS LUBUKLINGGAU
(STIE-MURA
LUBUKLINGGAU)
TAHUN
2019
KONSEP DASAR SISTEM INFORMASI
MANAJEMEN
1. Perkembangan Sistem Informasi
Manajemen
1. Sistem yang dikembangkan adalah untuk
manajemen
Setelah
sistem selesai dikembangkan, maka yang akan menggunakan informasi dari sistem
ini adalah manajemen, sehingga sistem harus dapat mendukung, kebutuhan yang
diperlukan oleh manajemen. Pada waktu Anda mengembangkan sistem, maka prinsip
ini harus selalu diingat.
2. Sistem yang dikembangkan adalah investasi
modal yang besar
Sistem
informasi yang akan Anda kembangkan membutuhkan dana modal yang tidak sedikit,
apalagi dengan digunakannya teknologi yang mutakhir. Sistem yang dikembangkan
ini merupakan investasi modal yang besar. Seperti halnya dengan investasi modal
lainnya yang dilakukan oleh perusahaan, maka setiap investasi modal harus
mempertimbangkan 2 hal, yaitu :
· Semua alternatif yang ada harus
diinvestigasi.
· Investasi yang terbaik harus bernilai.
3. Sistem yang dikembangkan memerlukan
orang-orang yang terdidik
Manusia
merupakan faktor utama yang menentukan berhasil tidaknya suatu sistem, baik
dalam proses pengembangannya, penerapannya, maupun dalam proses operasinya.
Oleh karena itu orang yang terlibat dalam pengembangan maupun penggunaan sistem
ini harus merupakan orang yang terdidik tentang permasalahan-permasalahan yang
ada dan terhadap solusi-solusi yang mungkin dilakukan.
4. Tahapan kerja dan tugas-tugas yang harus
dilakukan dalam proses pengembangan sistem Proses pengembangan sistem umumnya
melibatkan beberapa tahapan kerja dan melibatkan beberapa personil dalam bentuk
suatu team untuk mengerjakannya. Pengalaman menunjukan bahwa tanpa adanya
perencanaan dan koordinasi yang baik, maka proses pengembangan sistem tidak
akan berhasil dengan memuaskan.
Untuk
maksud ini sebelum proses pengembangan sistem dilakukan, maka harus dibuat
terlebih dahulu skedul kerja yang menunjukkan tahapan-tahapan kerja dan
tugas-tugas pekerjaan yang akan dilakukan, sehingga proses pengembangan sistem
dapat dilakukan dan selesai dengan berhasil sesuai dengan waktu dan anggaran
yang direncanakan.
5. Proses pengembangan sistem tidak harus
urut
Prinsip
ini kelihatannya bertentangan dengan prinsip nomor 4, tetapi tidaklah
sedemikian. Tahapan kerja dari pengembangan sistem di prinsip nomor 4
menunjukkan langkah-langkah yang harus dilakukan secara bersama-sama. Ingatlah
waktu adalah uang. Misalnya di dalam pengembangan sistem, perancangan output
merupakan tahapan yang harus dilakukan sebelum melakukan perancangan file. Ini
tidak berarti bahwa semua output harus dirancang semuanya terlebih dahulu baru
dapat melakukan perancangan file, tetapi dapat dilakukan secara serentak, yaitu
sewaktu proses pengadaan hardware.
6. Jangan takut membatalkan proyek
Umumnya
hal ini merupakan pantangan untuk membatalkan suatu proyek yang sedang
berjalan. Keputusan untuk meneruskan suatu proyek atau membatalkannya memang
harus dievaluasi dengan cermat. Untuk kasus-kasus yang tertentu, dimana suatu
proyek terpaksa harus dihentikan atau dibatalkan karena sudah tidak layak lagi,
maka harus dilakukan dengan tegas. Keraguan untuk terus melanjutkan proyek yang
tidak layak lagi karena sudah terserapnya dana kedalam proyek ini hanya akan
memubang dana yang sia-sia.
2. Karakterristik Sistem Informasi
Manajemen
Suatu
sistem bisa dikatakan sebagai sebuah sistem informasi apabila memenuhi
karakteristik utama dari sebuah sistem informasi. Karakteristik utama ini
menunjukkan bahwa sebuah sistem memang benar-benar sebuah sistem yang dapat
memberikan arus informasi dari host menuju usernya. Berikut ini adalah beberapa
karakteristik yang dimiliki oleh sistem informasi:
a. Memiliki
Komponen
Karakteristik pertama dari sebuah sistem
informasi adalah memilki komponen. Komponen ini merupakan bagian dari sebuah
sistem interaksi, dimana keseluruhan komponen tersebut saling berinteraksi satu
sama lain. Setiap komponen atau yang bisa juga disebut sebagai subsistem di
dalam sebuah sistem informasi memiliki sifat untuk menjalankan fungsi-fungsi
tertentu di dalam sebuah sistem informasi. Jadi, apabila sub-sistem atau
komponen dari sistem informasi ini tidak dapat bekerja optimal, maka
keseluruhan sistem informasi yang diimplementasikan tidak akan dapat berjalan
secara optimal.
b. Memiliki Batasan atau Boundary
Karakteristik dari sebuah sistem informasi
berikutnya adalah sebuah sistem informasi haruslah memiliki sebuah batasan
sistem atau yang dikenal dengan istilah boundary. Batasan ini merupakan
pembatas dari sebuah sistem informasi dengan sistem informasi lainnya, yang
membuat sistem informasi tersebut menjadi satu buah kesatuan sistem informasi
yang utuh, dan menunjukkan ruang lingkup yang dimilki oleh sistem informasi
tersebut.
Jadi,
dengan adanya boundary ini, sebuah sistem informasi tidak akan bekerja saling
tumpang tindih satu sama lainnya, dan dapat berfungsi sesuai dengan tugas dan
juga perannya masing-masing.
c. Memiliki Lingkungan Luar dari Sistem atau Environment
c. Memiliki Lingkungan Luar dari Sistem atau Environment
Karakteristik dari sistem informasi
berikutnya adalah memilki lingkungan luar dari sebuah sistem, atau yang disebut
dengan environment. Environment merupakan keseluruhan sistem dan juga
lingkungan yang berada di luar batasan atau boundary dari sebuah sistem
informasi. Sebuah sistem akan disebut sebagai sistem informasi, apabila sistem
tersebut memilki batasan atau boundary, dan juga memiliki lingkungan luar yang
berbatasan langsung dengan sistem informasi tersebut.
d. Memiliki
Interface
Interface atau antar muka merupakan
karakteristik berikutnya yang harus dimilki oleh sebuah sistem informasi. Ya,
suatu sistem akan dianggap sebagai sebuah sistem informasi yang dapat
dioperasikan dengan baik dan juga optimal apabila sistem informasi tersebut
memilki interface atau antar muka. Interface atau antarmuka ini merupakan media
yang digunakan untuk dapat menghubungkan sebuah komponen atau sub-sistem yang
terdapat pada sebuah sistem informasi.
Hal ini mengacu pada karakteristik pertama
pada sebuah sistem informasi, dimana sistem informasi memilki beberapa komponen
dan juga sub-sistem yang menjadi dasar terbentuknya suatu keseluruhan sistem.
Keseluruhan komponen dan juga sub-sistem tersebut dihubungkan dengan apa yang
disebut dengan interface. Berarti, sudah jelas terlihat, apabila suatu sistem
informasi tidak memiliki interface, maka sistem tersebut tidak akan dapat
berjalan dengan optimal.
e. Memiliki Input atau Masukan Sistem
Karakteristik berikutnya dari sebuah
sistem informasi adalah sistem input atau masukan. Input system atau sistem
masukan ini meruapakan jenis energy yang digunakan untuk dimasukkan ke dalam
suatu sistem. Masukan atau input ini terdiri dari dua jenis, yaitu:
Maintenance input merupakan input yang
berhubungan dengan perawatan suatu sistem, dimana merupakan sebuah energy yang
dimasukkan ke dalam sistem informasi, agar sistem informasi tersebut bisa
berjalan dengan baik dan optimal
Signal input merupakan energy yang
merupakan sinyal, yang artinya, energy ini sangat berpengaruh terhadap proses
transfer dan juga transmisi data atau informasi yang dimiliki sebuah host untuk
diteruskan melalui sistem informasi menuju keluaran atau output.
f. Memiliki Output atau Keluaran dari Sebuah Sistem
Output atau keluaran merupakan
karakteristik dari sistem informasi yang berikutnya. Output merupakan keluaran
energy atau hasil yang diteruskan oleh input. Hasil atau output ini bisa berupa
tampilnya data dan juga informasi yang muncul pada display user, yang berisi
informasi. Dengan adanya output ini , maka setiap user yang menggunakan sistem
informasi dapat mengakses dan juga memanfaatkan layanan informasi yang
ditujukkan kepada dirinya, sehingga membuat sistem informasi dapat bekerja
dengan optimal dan bermanfaat.
g. Memiliki
Pengolah dan Pemrosesan Sistem
Karakteristik berikutnya yang harus
dimilki oleh sistem informasi adalah sebuah pengolah data atau pemrosesan
sistem. Pengolah data atau pemrosesan sistem ini merupakan komponen atau bagian
di dalam sebuah sistem informasi yang memilki tugas utama untuk memproses input
dari sebuah sistem informasi menandai keluaran atau output dari sebuah sistem
informasi.
Singkatnya, processing system ini membantu
proses pengolahan data secara keseluruhan yang ada didalam sebuah sistem
informasi, lalu mentransmisikan hasil dari pengolahan data tersebut menuju
output yang dikeluarkan oleh sistem dan dapat diakses oleh user.
h. h. Memiliki
Sasaran dari Sistem
Karakteristik terakhir merupakan
karakteristik yang mungkin paling penting dari sebuah sistem informasi.
Karakteristik tersebut adalah sasaran dari sistem. Ya, sasaran dari sistem
merupakan analisis berupa siapa saja yang akan menggunakan sistem informasi
ini. Tanpa adanya sasaran dari pembuatan sistem, maka sudah pasti sebuah sistem
informasi tidak akan bisa bermanfaat dan juga berguna.
Misalnya adalah, sebuah sistem informasi
diimplementasikan untuk para auditor dan juga akuntan. Maka jenis dari sistem
informasi yang akan diimplementasikan dan juga dikembangkan adalah jenis dari
sistem informasi akuntasi, yang berisi data – data keuangan suatu eprusahaan
dan juga organisasi.
3. Hubungan Manajer Dengan Sistem
Informasi Manajemen
Sistem informasi manajemen biasanya
digunakan oleh para manajer dalam sebuah organisasi untuk membuat keputusan
yang sesuai. Pembuatan keputusan yang diambil oleh manajer ini, tentu saja
merupakan proses yang panjang dari pengelolaan data menjadi informasi, lalu
informasi tersebut menjadi pengetahuan, selanjutnya yaitu hasil dari kebijakan
yang diambil oleh manajer dalam pengambilan keputusannya.
Sebuah sistem informasi manajemen (SIM)
memungkinkan perusahaan untuk memberikan jawaban atas manajer dalam mencari
ilmu. SIM ini dilakukan dengan menggabungkan data mentah tentang operasi
organisasi (yang terkandung dalam sistem teknologi informasi dasar) dengan
informasi yang dikumpulkan dari karyawan dalam sistem pakar yang mencerminkan prosedur
organisasi untuk manajer pada semua
tingkatan dalam semua fungsi untuk memungkinkan mereka untuk membuat keputusan
yang tepat waktu dan efektif untuk merencanakan, mengarahkan dan mengendalikan
kegiatan yang mereka responsible orang lain. Namun, memberikan cakupan yang
lebih terbatas. Mereka melihatnya sebagai suatu sistem pengumpulan dan analisis data dan
menghasilkan laporan. Tujuannya adalah untuk membantu para manajer untuk
memecahkan masalah terstruktur.
4. Pengambilan Keputusan Dengan Sistem
Informasi Manajemen
Dukungan sistem informasi manajemen pada
pembuatan keputusan dalam suatu organisasi dapat diuraikan menurut tiga tahapan
proses pembuatan keputusan, yaitu pemahaman, perancangan (design), dan
pemilihan. Dukungan SIM biasanya melibatkan pengolahan, file komputer maupun
non komputer. Pada tahap pemahaman hubungannya dengan SIM adalah pada proses
penyelidikan yang meliputi pemeriksaan data baik dengan cara yang telah
ditentukan maupun dengan cara khusus. SIM harus memberikan kedua cara tersebut.
Sistem Informasi sendiri harus meneliti semua data dan mengajukan permintaan
untuk diuji mengenai situasi-situasi yang jelas dan menuntut perhatian. Baik
SIM maupun organisasi harus menyediakan saluran komunikasi untuk
masalah-masalah yang diketahui dengan jelas agar disampaikan kepada organisasi
tingkat atas sehingga masalah-masalah tersebut dapat ditangani. Pada tahap ini
juga perlu ditetapkan kemungkinan-kemungkinannya.
Dukungan SIM memerlukan suatu data base
dengan data masyarakat, saingan dan intern ditambah metode untuk penelusuran
dan penemuan masalah-masalah.
Pada tahap perancangan
(design), kaitannya dengan SIM adalah membuat model-model keputusan untuk
diolah berdasarkan data yang ada serta memprakarsai pemecahan-pemecahan
alternatif. Model-model yang tersedia harus membantu menganalisis
alternatif-altematif. Dukungan SIM terdiri dari perangkat lunak statistika
serta perangkat lunak pembuatan model lainnya. Hal ini melibatkan pendekatan
terstruktur, manipulasi model, dan sistem pencarian kembali data base.
Pada tahap pemilihan, SIM
menjadi paling efektif apabila hasil-hasil perancangan disajikan dalam suatu
bentuk yang mendorong pengambilan keputusan. Apabila telah dilakukan pemilihan,
maka peranan SIM berubah menjadi pengumpulan data untuk umpan balik dan
penilaian kemudian. Dukungan SIM pada tahap pemilihan adalah memilih berbagai
model keputusan melakukan analisis kepekaan (analisis sensitivitas) serta
menentukan prosedur pemilihan.
Dukungan SIM untuk
pembuatan keputusan terdiri dari suatu database yang lengkap, kemampuan
pencarian kembali database, perangkat lunak statistika dan analitik lainnya,
serta suatu dasar model yang berisi perangkat lunak pembuatan model-model
keputusan. Pada dasarnya peranan SIM tersebut pada proses pemahaman, .yang
menyangkut penelitian lingkungan untuk kondisi-kondisi yang memerlukan
keputusan. Istilah pemahaman disini mempunyai arti sama dengan pengenalan
masalah. Kemudian pada proses perancangan serta pada proses pemilihan. Sering
orang menyatakan bahwa komputer akan mengambil keputusan, ini merupakan suatu
pernyataan yang salah kaprah dan tidak mengetahui letak peranan komputer serta
bagaimana suatu proses pengambilan keputusan dilakukan. Keputusan sebenarnya
hanya dapat diambil atau dilakukan oleh manusia. Oleh karena itu, manusia
pengambil keputusan harus selalu menjadi bagian dari suatu pemilihan.
Suatu aturan keputusan
atau suatu program komputer hanya membantu dengan memberikan dasar untuk suatu
keputusan, akan tetapi pemilihan keputusan dilakukan oleh seorang manusia.
Pernyataan komputer mengambil keputusan pada umumnya didasarkan atas anggapan
bahwa beberapa keputusan dapat diprogramkan, sedangkan keputusan-keputusan yang
lain tidak. Hal ini mengingatkan bahwa klasifikasi tentang keputusan terprogram
dan tidak terprogram sangat penting untuk perancangan SIM.
Ada suatu kecenderungan
di antara para perancang SIM untuk beranggapan bahwa suatu database (pusat
data) saja akan banyak memperbaiki pengambilan keputusan. Pandangan demikian
sebenarnya telah mengabaikan akan adanya tiga unsur dalam pengambilan keputusan
yang berperan penting, yaitu; data, model atau prosedur keputusan, dan
pengambil keputusan. Oleh karena itu, pengambilan keputusan dapat diperbaiki
dengan data yang lebih baik, model keputusan yang lebih baik, atau pengambil
keputusan yang lebih baik (lebih terlatih, lebih banyak pengalaman, dan
sebagainya).
Pada dasarnya, suatu
sistem informasi memiliki sifat yang hampir sama dengan sistem produksi yang
mengkonversikan bahan baku menjadi produk yang mungkin langsung digunakan oleh
konsumen atau menjadi bahan baku untuk fase konversi berikutnya. Sistem
informasi mengkonversi data kasar menjadi suatu laporan yang dapat dipakai atau
menjadi input untuk proses lanjutan. Banyak manajemen yang tidak puas dengan
sistem informasi mereka dan secara tajam langsung menyalahkan sistem komputer.
5.
Model Sistem Informasi Manajemen
1. Definisi Model
Model adalah penyederhanaan (abstraction)
dari sesuatu. Model juga merupakan perwakilan sejumlah objek atau aktivitas
yang disebut dengan entitas (entity). Biasanya manajer menggunakan model untuk
memecahkan suatu masalah.
2. Jenis-jenis Model
a. Model Fisik
Adalah penggambaran entitas dalam bentuk
tiga dimensi. Model fisik berukuran lebih kecil dari aslinya dan biasanya yang
digunakan dalam dunia bisnis berupa prototype model baru. Model fisik membantu
suatu tujuan yang tidak dapat dipenuhi oleh benda nyata. Contohnya investor
pusat perbelanjaan dan pembuat mobil dapat membuat sejumlah perubahan dengan
lebih murah melalui rancangan model fisik mereka dibandingkan dengan produk
akhir.
b. Model Naratif
Adalah penggambarkan entitas secara lisan
atau tulisan. Semua komunikasi bisnis adalah model naratif, sehingga model
naratif merupakan model yang paling popular dan paling sering digunakan oleh
pihak manajemen.
c. Model Grafik
Adalah model yang mewakili entitasnya
dengan menggunakan garis, simbol & bentuk dengan sedikit penjelasan
naratif. Misalnya laporan keuangan ditambah dengan grafik berwarna untuk
meperjelas, flowchart, DFD dalam pembuatan database
d. Model Matematis
Adalah model yang disajikan dengan rumus
matematika atau persamaan. Misalkan dalam perhitungan BEP (Break even point)
menggunakan rumus BEP = TFC / P – C. keterangannya (BEP : Break Event Point, TFC
: Total Fixed Cost, P : Price, C : Cost). Model ini seringkali digunakan
manajemen untuk kegiatan bisnis, atau untuk prediksi, analisis dll. Karena
model ini merupakan model dengan ketelitian tinggi, namun seringkali model ini
juga tidak disukai karena disajikan dengan rumit. Sesuai dengan tingkat
keperluannya saja maka model ini digunakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar